NU, PANCASILA dan NKRI

Saat duduk menyendiri, saya merenung betapa hebatnya perjuangan dan ide-ide cemerlang dari para pendiri bangsa Indonesia ini. Tentu saja peranan besar dari kalangan NU yang di dalamnya ada rakyat muslim, para santri dan ulamanya, tidak dapat diingkari dan tidak boleh dilupakan. Merekalah sesungguhnya pendiri NKRI.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang penuh keragaman agama, etnik, budaya, bahasa dan terdiri dari beribu-ribu pulau ini didirikan oleh mereka di atas landasan yang kokoh yakni Pancasila. Titik kesepakatan paling demokratis yang menjadi jalan tengah dari dua pilihan ekstrim antara bentuk negara sekuler dan negara agama, bahwa negara berdasarkan ketuhanan Yang maha Esa. Bukan negara Islam, (dar al-Islam), meskipun mayoritas penduduknya memeluk Islam. Jelaslah bahwa kemudian negara dan bangsa kita berkarakter religius.

Pancasila selamanya tidak boleh dan tidak lagi perlu dipertentangkan dengan agama, ia tidak bertentangan dengan spirit al-Qur’an dan al-Sunnah karena membingkai persatuan seluruh bangsa Indonesia. Karena Pancasila yang diamalkan sebagai falsafah kebersamaan hidup berbangsa pasti bisa menjadi energi pemersatu yang tidak bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Bila saja energi ini terus dikelola dengan benar dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran, niscaya negara ini pasti menjadi negara yang besar dan disegani.

Hal tersebut sejalan dengan cita-cita para pendiri NU dan menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya. Itulah sebabnya, Muktamar NU 1984 memutuskan, bahwa Pancasila dan NKRI dianggap final. Bagi NU, Indonesia bukanlah negara sekuler, namun juga bukan negara agama.

Pancasila sebagai falsafah negara adalah energi besar dari wujud komitmen bersama yang menjadi rambu-rambu untuk meraih cita-cita penyelenggaraan negara. Bangsa kita musti sepakat bahwa keselamatan bangsa dan negara harus tetap menjadi prioritas dibandingkan setiap kepentingan pribadi dan golongaan. Kita sebagai bangsa bersatu untuk berkata atau bertindak apa saja yang tidak merugikan keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila hanyalah sebagai dasar dan falsafah NKRI, bukanlah agama, tidak bisa menggantikan agama dan tidak pula bisa menggantikan kedudukan agama.
Maka idealnya Pancasila menjadi nafas bangsa ini

Sekedar bertanya, kemanakah Pancasila itu jika bangsa ini berpecah belah. Di mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu, jika kesejahteraan dan kemakmuran hanya dimiliki oleh segelintir orang saja?

Itulah tugas besar setiap anak bangsa ini untuk bersatu mencari solusinya.

Fatmawati telah menjahit Bendera Indonesia. Maka tugas kalian adalah menjahit Indonesia. Bukan malah menjihad (Radikal) .

Advertisements